Perjodohan Paksa(kawin paksa), menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Hukum Negara

Hukum Kawin Paksa menurut undang undang dan IslamPerjodohan yang dipaksakan yang biasa disebut Kawin paksa , dalam bahasa Indonesia berasal dari dua suku kata yaitu kawin dan paksa. Kawin dalam kamus Bahasa Indonesia berarti perjodohan antara laki-laki dan perempuan sehingga menjadi suami dan istri, sedangkan paksa adalah perbuatan (tekanan, desakan dan sebagainya) yang mengharuskan (mau tidak mau atau harus¦). Sedangkan dalam kamus ilmiah popular, paksa adalah mengerjakan sesuatu yang diharuskan walaupun tidak mau. Jadi kedua kata tersebut jika digabungkan akan menjadi kawin paksa yang berarti suatu perkawinan yang dilaksanakan tidak atas kemauan sendiri (jadi karena desakan atau tekanan) dari orang tua ataupun pihak lain yang mempunyai hak untuk memaksanya menikah.

Kawin paksa ini terjadi tentu karena banyak motif yang melatar belakanginya, sebagai contoh;  perjanjian diantara orang tua yang sepakat untuk menjodohkan anak mereka, bisa juga karena faktor keluarga, atau bahkan ada yang karena harta.

Berikut sudut pandang hukum Kawin Paksa, dilihat dari hukum Negara dan hukum dalam Agama Islam

Pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan adalah haram hukumnya, dan jika terus dilanjutkan hanya akan mengganggu keharmonisan dalam berumah tangga.

Kawin Paksa dari Sudut Pandang Hukum Negara

Secara hukum,  kawin paksa adalah perkawinan yang dilaksanakan tanpa didasari atas persetujuan kedua calon mempelai, hal ini bertentangan dengan pasal 6 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 yang berbunyi: Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

Adanya persetujuan kedua calon mempelai sebagai salah satu syarat perkawinan dimaksudkan agar supaya setiap orang bisa dengan bebas memilih pasangannya sendiri untuk hidup berumah tangga dalam membangun perkawinan. Munculnya syarat persetujuan dalam Undang-Undang Perkawinan, bisa dihubungkan dengan sistem perkawinan pada zaman dulu, yaitu seorang anak harus patuh pada orang tuanya untuk bersedia dijodohkan dengan orang yang dianggap tepat oleh orang tuanya. Sebagai anak harus mau dan tidak dapat menolak kehendak orang tuanya, walaupun kehendak anak tidak demikian. Untuk menanggulangi kawin paksa, Undang-Undang Perkawinan telah memberikan jalan keluarnya, yaitu suami atau istri dapat mengajukan pembatalan perkawinan dengan menunjuk pasal 27 ayat (1) apabila paksaan untuk itu dibawah ancaman yang melanggar hukum.

Kawin Paksa dari Sudut Pandang Hukum Agama Islam

Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang Muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya.

Pernikahan melalui perjodohan ini sudah terjadi sejak dulu. Bahkan Di zaman Rasululloh saw pun pernah terjadi. Aisyah ra yang kala itu masih kanak-kanak dijodohkan dan dinikahkan oleh ayahnya dengan Rasulullah saw. Setelah baligh, barulah Ummul Mukminin Aisyah tinggal bersama Rasululloh saw. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, seorang sahabat meminta kepada Rasul saw agar dinikahkan dengan seorang Muslimah. Akhirnya, ia pun dinikahkan dengan dengan mahar hapalan al-Quran. Dalam konteks ini, Rasul saw yang menikahkan pasangan sahabat ini berdasarkan permintaan dari sahabat laki-laki. Meskipun didasarkan pada permintaan, toh perintah pernikahan datang dari orang lain, yaitu Rasul saw. Tentu saja dengan persetujuan dari mempelai perempuan.

Perjodohan oleh orang tua untuk anaknya adalah hanya salah satu jalan untuk dapat menikahkan anaknya dengan seseorang yang menurut mereka dianggap cocok. Namun, pilihan yang terbaik menurut orang tua belum tentu tepat menurut Anak. Boleh-boleh saja Orang tua menjodohkan anaknya dengan orang yang diinginkan, tapi hendaknya tetap harus meminta izin dan persetujuan dari anak, agar pernikahan yang dilaksanakan nantinya berjalan atas keridhoan masing-masing, bukan keterpaksaan.

Dalam pernikahan, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya adalah kerelaan calon isteri. Wajib bagi wali untuk menanyakan terlebih dahulu kepada si calon isteri, dan mengetahui kerelaannya sebelum dilakukan aqad nikah. Perkawinan merupakan pergaulan abadi antara suami isteri. Kelanggengan, keserasian, persahabatan tidaklah akan terwujud apabila kerelaan pihak calon isteri belum diketahui. Islam melarang menikahkan dengan paksa, baik gadis atau janda dengan pria yang tidak disenanginya. Akad nikah tanpa kerelaan wanita tidaklah sah. Ia berhak menuntut dibatalkannya perkawinan yang dilakukan oleh walinya dengan paksa tersebut (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 7).

Dan orang tua, hendaknya tidak berbuat semena-mena terhadap anak. Jangan karena anaknya enggan menerima tawaran dari orang tua, lalu mengatakan anak adalah anak yang durhaka. Tapi hendaknya orang tua harus memahami kondisi psikologis sang anak dan harapan akan jodoh yang diidamkannya. Sebab bila dilihat dari pertimbangan-pertimbangan syari, hak-hak anak sangat diperhatikan. Islam datang untuk memfasilitasi antara hak-hak dan kewajiban seorang anak untuk menikah tanpa sama sekali melepaskan peran orang tua di dalamnya.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّىŽ ŽØªÙØ³Ù’تَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُŽ ŽØ§Ù„ْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَŽ ŽÙ‚َالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِŽ ŽÙˆÙŽÙƒÙŽÙŠÙ’فَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْŽ ŽØªÙŽØ³Ù’كُتَ

Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya? Beliau menjawab, Dengan ia diam. (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّŽ ŽØ¨ÙÙ†ÙŽÙÙ’سِهَا مِنْ وَلِيِّهَاŽ ŽÙˆÙŽØ§Ù„ْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَاŽ ŽØ£ÙŽØ¨ÙÙˆÙ‡ÙŽØ§ فِي نَفْسِهَاŽ ŽÙˆÙŽØ¥ÙØ°Ù’نُهَا صُمَاتُهَا

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya. (HR. Muslim no. 1421)

Dari Khansa binti Khidzam Al-Anshariyah radhiallahu anha:

أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَاŽ ŽÙˆÙŽÙ‡ÙÙŠÙŽ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْŽ ŽØ°ÙŽÙ„ِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّŽ ŽØµÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‰ اللَّهُ عَلَيْهِŽ ŽÙˆÙŽØ³ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ…ÙŽ فَرَدَّ نِكَاحَهَا

Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membatalkan pernikahannya. (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah).

(Sumber: lordbroken.wordpress.com)
loading...

Mungkin Anda juga Menyukainya :

Berikan komentar Anda: