Mitos: Asal usul Hantu Kuntilanak

Mitos: Asal usul Hantu Kuntilanak – Kuntilanak adalah salah satu kisah hantu yang cukup populer dikalangan masyarakat, sehingga hingga kinipun masih sering diangkat kedalam cerita film.Sebut saja beberapa film yang mengambil kisah kuntilanak,Terowongan Casablanca (Kuntilanak Merah) (2007) (Indika Entertainment),Kuntilanak (2006) karya Rizal Mantovani,Kuntilanak (1974); dibintangi dan disutradarai oleh Ratno Timoer),Kuntilanak (1962), dibintangi oleh Ateng,Sundel Bolong, dibintangi oleh Suzanna,Kuntilanak Kamar Mayat (2009),Kuntilanak Beranak (2009),Paku Kuntilanak (2009).

Mitos: asal usul kuntilanak

Untuk urusan peran hantu kuntilanak dalam film era 80an, seringkali dipercayakan kepada sosok aktris bernama Suzanna.Memang, Suzzana(Alm,) sudah seperti spesialisai dalam peran hantu.Konon katanya, Suzzana tidak sembarangan dalam membawakan peran kuntilanak, dia sebelumnya melakoni ritual tertentu supaya bisa menjiwai perannya dengan baik.

Mitos: Asal usul Hantu Kuntilanak dalam cerita masyarakat

Hantu yang digambarkan sebagai seorang wanita berdaster putih dan beraroma wangi ini seringkali diceritakan suka mengganggu manusia dengan cara menampakkan diri dengan tawanya yang bikin bulu kuduk merinding.Seperti apakah mitos dan asal usul hantu kuntilanak ini?,,

Kuntilanak (bahasa Melayu: puntianak, pontianak) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia.Atau wanita yang meninggal karena melahirkan, namun anak tersebut belum sempat lahir. Nama kuntilanak atau pontianak kemungkinan besar berasal dari gabungan kata bunting (hamil) dan anak. Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara.

Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana.

Dalam cerita rakyat Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kemboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak dikatakan sering menjelma sebagai wanita cantik yang berjalan seorang diri dijalan yang sunyi. Oleh karena itu, cerita ini kemungkinan bertujuan menghindari golongan wanita daripada diganggu oleh pemuda-pemuda yang takut akan Kuntilanak ketika berjalan seorang diri di jalan yang sunyi.

Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.

Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat bersemayam, misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut waru doyong).

Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.

Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.

Terimakasih telah membaca artikel Mitos: Asal usul Hantu Kuntilanak. Bantulah mereka yang mungkin sangat membutuhkan informasi ini melalui tombol SHARE FB/twitt/G+ dibawah ini:


This entry was posted in Misteri, Mitos and tagged , .

Komentar: