Dampak buruk Bully / bullying terhadap psikologis anak


Bullying adalah fenomena sosial yang rumit yang memiliki dampak yang bisa jauh mencapai pada korban dan pelaku. Dengan demikian, istilah dari ejekan/olokan ini kini mulai mendapat perhatian serius diseluruh dunia; banyak penelitian telah dilakukan dalam upaya untuk memahami efek bully secara mentalitas pada para korban dan pelaku. Misteri bullying ternyata lebih rumit dari faktanya, bahwa sepertinya ada yang absolut ekonomi, sosial, atau bahkan ras. Siapapun bisa menjadi korban dan juga siapa saja bisa menjadi pelaku. Hal ini membuat sangat sulit bagi para peneliti untuk menentukan faktor risiko dan cara intervensi. Salah satu hal yang pasti tentang bullying adalah bahwa korban sering mengalami ketakutan emosional dalam jangka panjang sebagai akibat dari pengalaman masa lalu mereka.

dampak bulying secara psikologis

Pelajari lebih lanjut tentang dampak bullying secara Psikologis sekarang!

Dr Randy A. Sansone, seorang profesor di Departemen Psikiatri dan Internal Medicine di Wright State University di Dayton, Ohio, mengatakan pada Konsekuensi Bullying “Pasca dibully, korban bisat mengembangkan berbagai gejala psikologis serta Gejala somatik, beberapa di antaranya bisa bertahan hingga mereka dewasa. Efek psikologis jangka panjang ini sangat mengganggu bagi masyarakat, bahkan peningkatan penembakan di sekolah dalam beberapa dekade terakhir(Amerika). Banyak pelaku penembak dalam insiden ini dilaporkan telah diganggu/bully selama bertahun-tahun sebelum mereka akhirnya hilang kesabaran, dan mengakibatkan dorongan kekerasan pada mereka sendiri. Bullying adalah masalah yang cukup serius, dan tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah anak-anak yang harus ditangani di tempat bermain.

Pengaruh atau konsekwensi Psikologi  akibat Bullying adalah masalah kesehatan mental yang serius, sehingga orang tua dan guru perlu menyadari untuk melakukan perawatan yang lebih baik bagi siswa dan anak-anak mereka.

Masalah Sosial

Bullying menciptakan lingkaran setan bagi korban dalam kehidupan sosial mereka . Salah satu reaksi yang paling umum dari intimidasi yang terjadi pada anak-anak adalah, mereka akan mulai bertindak lebih muda dari usianya. Dalam upaya untuk melindungi diri dari situasi bullying, mereka seolah akan sulit menjadi dewasa. Ini ditafsirkan oleh teman-teman mereka sebagai “bayi”. Semakin anak cenderung terhadap guru, dan ketika menjadi dewasa akan berharap untuk dilindungi, dan yang sudah keras menjadi pembully; terutama akan merusak selama tahun-tahun pra-remaja, ketika anak-anak mencoba untuk memahami tentang bagaimana cara mengembangkan hubungan pribadi dengan rekan-rekan mereka. Hal ini bisa memiliki konsekuensi seumur hidup pada kemampuan individu untuk ikatan dengan orang lain/sosial.

Lihat Juga :  Tips berfikir positif dan cara mengatasi fikiran negatif

Kecemasan dan Depresi

Pada anak yang lebih tua dan remaja, efek bullying sering lebih diinternalisasikan. Selama tahun-tahun remaja, anak muda mendambakan ketergantungan dan tidak menginginkan bantuan. Mereka akan, oleh karena itu, berusaha untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Karena keterampilan “mengatasi” mereka tidak cukup berkembang pada usia ini, maka ketika menghadapi situasi bullying yang rumit, mereka mulai menginternalisasi masalah dan mengembangkan rasa tak berdaya. Hal ini bisa mengakibatkan gangguan depresi dan kecemasan. Jika dibiarkan, kecemasan ini bahkan bisa mulai memanifestasikan dirinya menjadi gangguan makan, paling sering anoreksia dan bulimia terutama pada korban perempuan.

Manifestasi fisik dari Bullying

Kadang-kadang ketika anak muda tidak tahu bagaimana cara menangani emosi yang mereka alami, mereka mungkin mulai mengalami gejala psikosomatik; ini adalah hasil dari emosi yang diwujudkan dalam kondisi fisik. Dr. Sansone menyebutkan bahwa penelitian di Amerika Serikat dan di Finlandia telah menunjukkan hubungan langsung antara anak-anak yang dibully dan peningkatan kejadian sakit kepala, sakit perut, mengompol dan masalah tidur. Semua manifestasi fisik ini bisa menambah peningkatan kesulitan anak dengan perkembangan sosial mereka; yang pada gilirannya akan melanjutkan siklus bullying. Misalnya seorang anak yang berhubungan dengan masalah tidur, mungkin ia kelelahan di sekolah dan mulai melakukan hal buruk. Hal ini bisa dengan mudah menjadi pemicu untuk kejadian intimidasi di masa depan. Dalam upaya untuk meringankan ketidaknyamanan anak-anak,  orang tua biasanya akan mengambil obat-obatan yang sebenarnya hanya untuk penyakit fisik;  sementara penyebab emosional dari sisa masalah belum terpecahkan.

Artikel Terkait :

Berikan komentar Anda: