Biografi Ustadz Jefry Al-Buchori


Kisah biografi Ustadz jefry Al BuchoriBiografi Ustadz Jefry Al-Buchori – Innalillahi wainnaillaihi rojjiunn,,,Ustadz yang dijuluki sebagai ustadz gaul, karena beliau begitu populer dikalangan anak Muda karena dianggap banyak memberikan inspirasi ini telah berpulang ke Rahmatullah.Ustadz muda yang kerap dipanggil Uje iniĀ  meninggal pada usia 40 tahun dalam sebuah kecelakaan tunggal pada jam 1 dinihari jum’at dikawasan pondok Indah jakarta. Menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya kepala beliau membentur pohon palem, dan sepeda motor kawasaki 600cc yang ditungganginya terpental dan rusak parah. Jenazah beliau disholatkan di masjid istiqhlal jakarta dan kemudian diantarkan kemakam oleh ribuan umat Islam yang bersimpati kepada beliau.Kini Beliau telah tiada, meninggalkan nama yang akan harum dikenal seluruh lapisan masyarakat dalam dan luarnegeri.

Bagaimanakah perjalanan sang Ustadz, sampai beliau menjadi populer seperti yang kita kenal?, berikut kisah biografiĀ  Ustadz Jefry Al Buchori semasa hidup.

#####

Bismillahirahmanirrohimm…..Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah. Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat mulai nomor ini.

“Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.”

Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan.

Lihat Juga :  Cara memakai Jilbab Modern dan Gambar

Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.

Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.

Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.

BERKEPRIBADIAN GANDA …

Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.

Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.

Artikel Terkait :

Berikan komentar Anda: