Apakah Stress | Gejala-gejala orang sedang Stress


Apakah stres?..

Apakah Stress | Gejala-gejala orang sedang StressStres bisa berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Akan tetapi sebagian besar bisa digunakan dalam konteks psikologi dan kadang-kadang dalam biologi. Dalam kondisi biologis, stres adalah hal yang terkait dengan ketidakseimbangan biokimia, yang dihasilkan oleh  gangguan psikologis yang terjadi di dalam diri seseorang. Tujuan dari kimia tubuh adalah untuk mempertahankan keadaan yang stabil atau seimbang untuk sebagian besar waktu. Ada juga aspek-aspek psikologis dari stres. Secara psikologis, setiap orang berbeda,  dan begitu juga respon mereka terhadap stres. Kejadian atau situasi seperti perang, kelaparan dan penyalahgunaan masa kanak-kanak dapat menyebabkan penyakit yang terkait stres yang dikenal dengan gangguan stres pasca-trauma (Post-traumatic stress disorder – PTSD) . Stres dalam tubuh kita juga bisa semakin memburuk karena penyalahgunaan alkohol, tembakau, ganja, resep obat dan narkotika.

Stres akan membantu binatang untuk dapat keluar dari bahaya. Konsep ini dikembangkan oleh Walter Cannon pada awal 1920-an,  yang dikenal dengan ‘ fight or flight ‘ , yaitu situasi di mana saat hewan diserang, akan menghasilkan energi dengan cepat sehingga dengan baik bisa melawan atau melarikan diri dari situasi.

Terjadi Akumulasi bahan kimia seperti kortisol dan norepinephrine dalam tubuh kita dalam kondisi stres. Bahan kimia ini tidak bisa hilang dengan mudah,  dan mereka tetap dalam tubuh kita dan menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa kondisi yang paling umum yang disebabkan oleh  stres, seperti kecemasan, ketegangan, sulit tidur, pusing, gugup, sakit asam lambung, mulas dan sakit punggung. Ini adalah beberapa kondisi yang secara langsung atau jangka pendek.

Stres dapat juga  menyebabkan kondisi jangka panjang, seperti hipertensi, diabetes, tingkat tinggi kolesterol jahat dan kondisi jantung yang tidak sehat. Dalam jangka panjang Stres juga dikenal dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang, yang akan membuat kita rentan terhadap penyakit. Dalam beberapa kasus, stres bisa melemahkan kerja vakninasi. Oleh karena itu, tak salah jika banyak ahli yang mengatakan jika stres itu adalah biangnya penyakit. Baca juga: “Kenapa stress bisa menyebabkan penyakit?” disini

Lihat Juga :  Apa ya Penyebab Kram Perut?

Jenis-jenis Stres

Ada berbagai jenis stres yang mungkin tidak bisa dikontrol dengan jenis obat yang sama

Stres akut : ini adalah bentuk stres yang paling umum yang ditemukan pada manusia. Stres ini umumnya tentang tekanan dari masa lalu, atau yang baru baru-baru ini. Sedikit dosis dari stres tersebut bisa menciptakan rasa yang mendebarkan, seperti ketika meluncur menuruni tebing. Tapi, banyak orang mungkin tidak bisa merasakan ini jika dosis lebih tinggi dari biasanya. Stres akut biasa menyebabkan mudah marahan, kecemasan, sakit kepala, nyeri rahang, sakit punggung, hati panas, asam lambung, sembelit, diare dan tekanan darah tinggi.

Stres akut episodik: Jenis stres ini adalah tingkat lanjutan dari stres akut, di mana seseorang akan menerima sejumlah tekanan atau tuntutan secara bersamaan. Gejala-gejala stres akut episodik termasuk agresivitas, kecemasan, ketidaksabaran, ketegangan, tekanan darah tinggi, mempercepat detak jantung, sakit punggung danasam lambung tinggi. Ketidaksabaran dan agresivitas ini kadang-kadang akan memunculkan anggapan yang tidak bersahabat, dan akhirnya membuat orang menjadi buruk dalam bicara. Sementara itu ada sebagian yang justru merasakan merasa sangat tertekan dan sedih, daripada menjadi  agresif. Bahkan bisa mengalami kedua jenis gejala secara bersama-sama.

Stres kronis : Sebagian besar penderita stres kronis akan menjadikan seseorang pecandu alkohol atau pecandu narkoba. Masalah umum di tempat kerja, kehidupan pribadi, hubungan profesional, kehilangan orang yang dicintai, pengangguran, dll, bisa menyebabkan stres kronis. Baca juga:Cara Menghindari Stress Disini

Berikut beberapa gejala yang terkait dengan kondisi sedang stres

Memori yang buruk :

Orang yang sedang Stres bisa memiliki memori yang buruk. Situasi tres menyebabkan tubuh melepaskan hormon yang disebut kortisol, yang dapat mempengaruhi wilayah hippocampus otak yang menyimpan informasi penting dalam bentuk koneksi. Penelitian menunjukkan bahwa kortisol bisa memutuskan koneksi, dan menghancurkan yang baru terbentuk atau baru membentuk koneksi. Dengan kata lain, hormon stres kortisol bisa membuat memori memburuk .

Lihat Juga :  Dapatkah Menyembuhkan sakit gigi dengan berkumur air garam?

Kurang, atau sulit konsentrasi :

Dalam kondisi stres, pelepasan kortisol akan mengganggu pembentukan memori baru. Hal ini yang merupakan alasan, mengapa seseorang sulit untuk berkonsentrasi saat stres. Studi di laboratorium menunjukkan bahwa kehadiran kortisol, baik yang ada secara alami maupun yang diberikan mengakibatkan gangguan memori.

Sikap pesimis :

Pesimisme adalah salah satu gejala yang banyak terlihat pada orang yang sedang mengalami stres.

Kekhawatiran yang tak beralasan :

Orang yang stres bisa merasa khawatir terus-menerus tanpa alasan yang jelas. Kadang-kadang alasan yang dikhawatirkan adalah hal kecil, dan membuang banyak energi untuk memikirkan sesuatu yang mungkin tidak pernah terjadi.

Sembelit dan diare :

Sembelit dan diare juga bisa dirasakan oleh orang dengan stres. Stres menyebabkan otot-otot rektum memperketat, dan menyebabkan sembelit. Sementara itu pada beberapa orang, stres juga bisa menyebabkan sebaliknya atau tidak dapat mengontrol otot-otot rektum. Ada juga yang mengalami diare dan sembelit yang bergantian. Sembelit dan diare lebih lanjut dapat menyebabkan wasir.

Detak jantung dan dada nyeri :

Orang yang sedang stres bisa mengalami detak jantung yang lebih cepat. Hal ini karena disebabkan oleh kecemasan yang muncul dari pikiran bawah sadar tentang ketidakpastian masa depan. Kondisi seperti ini pada akhirnya dapat menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Orang yang menderita tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol berpeluang stroke lebih besar.

Kurangnya dorongan seksual :

Kurangnya dorongan seksual adalah gejala utama lainnya dari orang yang mengalami stress. Stres dan seks berbagi sedikit koneksi dalam bentuk hormon. Telah diteliti bahwa stres bisa berhubungan langsung dengan pengurangan atau menetralkan hormon yang bertanggung jawab untuk dorongan seksual.

Gangguan makan :

Gangguan makan juga bisa dihubungkan dengan gangguan yang berhubungan dengan stres. Secara psikologis, ada dua jenis makan. Salah satunya adalah makan dengan emosional dan yang lainnya adalah dengan membatasi makan. Makan emosional cenderung makan setiap kali stres, saat merasa sedih atau saat frustrasi.

Lihat Juga :  Apakah penyakit lupus - Penyebab dan ciri-ciri Lupus

Artikel Terkait :

Berikan komentar Anda: